Isoniazid

Isoniazid merupakan salah satu obat yang digunakan untuk menangani penyakit tuberkulosis, yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis yang masih sensitif terhadap isoniazid. Selain itu, pada tuberkulosis laten, isoniazid digunakan untuk pengobatan pasien asimtomatik yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
Isoniazid



Struktur kimia isoniazid

Isoniazid

Indikasi
Isoniazid digunakan untuk terapi tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain.

Kontraindikasi:
  1. Isoniazid dapat menginduksi timbulnya penyakit hati
  2. Hipersensitivitas terhadap isoniazid atau komponen lain dalam sediaan, penyakit hati akut, riwayat kerusakan hati selama terapi dengan isoniazid.

Dosis dan Cara Pemakaian:
  • Oral (bentuk injeksi dapat digunakan untuk pasien yang tidak dapat menggunakan sediaaan oral maupun karena masalah absorbsi)
  • Bayi dan anak-anak: Pengobatan pada LTBI (latent TB infection) 10 20 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari) atau 20-40 mg/kg (maksimal 900 mg/ dosis) dua kali seminggu selama 9 bulan
  • Pengobatan infeksi TB aktif, terapi harian 10-15 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari)
  • Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 20-30 mg/kg (maksimal 900 mg)
  • Dewasa: Pengobatan pada LTBI (latent TB infection): 300 mg/hari atau 900 mg dua kali seminggu selama 6-9 bulan pada pasien yang tidak menderita HIV (terapi 9 bulan optimal, terapi 6 bulan berkaitan dengan penurunan biaya terapi) dan 9 bulan pada pasien
  • Pengobatan infeksi TB aktif: Terapi harian 5 mg/kg/hari diberikan setiap hari (dosis lazim: 300 mg/hari)
  • 10 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis terbagi pada pasien dengan penyakit yang telah menyebar
  • Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 5 mg/kg (maksimal 900 mg)
  • terapi 3 kali/minggu: 15 mg/kg (maksimal 900 mg).

Efek Samping:
Mual, muntah, konstipasi; neuritis perifer dengan dosis tinggi (diperlukan profilaksis piridoksin), neuritis optik, konvulsi,episode psikosis, vertigo; reaksi hipersensitivitas termasuk demam, eritema multiforma, purpura; gangguan darah termasuk agranulositosis, anemia haemolitik, anemia aplastik; hepatitis (terutama umur diatas 35 tahun); syndrom like-systemic lupus erythematosus, pellagra, hyper reflexia, hiperglikemia dan dilaporkan ginekomastia.

Peringatan dan perhatian:
  1. Kerusakan hati; kerusakan ginjal; status asetilator lambat (meningkatkan risiko efek samping); epilepsi; riwayat psikosis; ketergantungan alkohol, malnutrisi, diabetes melitus, infeksi HIV (resiko neuritis perifer)
  2. kehamilan dan menyusui
  3. porfiria.
  4. Gangguan hati: pasien atau keluarganya harus diberitahu bagaimana mengenal tanda-tanda gangguan hati dan disarankan untuk menghentikan pengobatan serta segera memeriksakan diri jika muncul gejala yang menetap seperti mual, muntah, malaise atau jaundice (penyakit kuning).

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
  • Tablet: 100 mg, 300 mg, 400 mg
  • Tablet dispersibel: 75 mg (kombinasi)
  • Sirup: 100 mg/5 ml.

Penyimpanan:
  • Lindungi sediaan oral dari cahaya, udara dan panas yang berlebihan.
  • Isoniazid tablet harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, kedap cahaya pada temperatur kurang dari 40°C, lebih baik antara 15-30°C.
  • Tablet yang mengandung kombinasi tetap rifampin, isoniazid dan pyrazinamid harus dilindungi dari kelembaban yang berlebihan dan disimpan pada suhu 15-30°C

Pustaka:
-MIMS Indonesia
-ISO Indonesia.
loading...

Subscribe to receive free email updates: