Etinilestradiol

Etinilestradiol adalah senyawa estrogen sintetik steroidal, yaitu turunan sintetik dari estradiol alami. Senyawa estrogen sintetik nonsteroidal antara lain dietilstilbestrol. Estrogen adalah hormon seks perempuan yang bekerja menstimulasi sifat-sifat seks sekunder perempuan.Di dalam tubuh, estrogen disintesis dari prekursor androstenedion atau testosteron. Salah satu estrogen alami adalah estradiol.

Estradiol merupakan estrogen utama pada wanita premenopause. Sekresi estradiol dari ovarium sekitar 100 - 600 mcg per hari.
Etinilestradiol

Indikasi Etinilestradiol:
  1. Gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan dengan menopause. (Tidak ada bukti bahwa estrogen efektif mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang mungkin terjadi selama atau sebelum menopause, oleh sebab itu tidak boleh diberikan untuk indikasi tersebut) 
  2. Hipogonadism pada wanita
  3. Terapi paliatif karsinoma prostat yang tak dapat dioperasi,
  4. pada tahap lanjut Terapi paliatif kanker payudara yang tak dapat dioperasi, hanya dilakukan dengan pertimbangan khusus: misalnya pada wanita yang sudah lebih 5 tahun postmenopause dengan penyakit yang makin parah dan resisten terhadap radiasi. 
Kontra Indikasi:
  1. Estrogen tidak boleh diberikan kepada pasien dengan: Kanker atau dugaan kanker payudara, kecuali ada pertimbangan khusus (lihat Indikasi) 
  2. Neoplasia, terutama yang bergantung estrogen 
  3. Perdarahan genital abnormal 
  4. Tromboflebitis aktif atau gangguan tromboembolik 
  5. Riwayat tromboflebitis, trombosis, atau gangguan tromboembolik yang dikaitkan dengan penggunaan estrogen sebelumnya (kecuali apabila digunakan dalam pengobatan kanker prostat atau payudara) 
  6. Kehamilan 
  7. Menyusui 

Dosis dan Cara Pemakaian Etinilestradiol:
  • Diberikan secara siklus hanya dalam jangka pendek, untuk pengobatan gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan dengan menopause. 
  • Dosis terendah yang dapat mengendalikan gejala ini harus ditentukan dengan seksama dan pengobatan harus dihentikan sesegera mungkin 
  • Pemberian dilakukan dalam siklus (misalnya 3 minggu diberikan, 1 minggu tidak) 
  • Penghentian terapi atau pengurangan dosis harus dilakukan setiap interval 3-6 bulan 
  • Dosis yang umum, 1 tablet 0,02 mg atau 0,05 mg sekali sehari 
  • Dalam beberapa kasus, dosis yang efektif adalah 0,02 mg sekali dua hari 
  • Pada awal menopause dimana menstruasi spontan masih berlangsung, dosis efektif adalah 0,05 mg satu kali sehari selama 21 hari lalu diikuti oleh masa istirahat (tidak diberi obat) selama 7 hari 
  • Pada kasus yang parah, misalnya pada kastrasi karena pembedahan atau radiasi, dapat diberikan tablet 0,05 mg tiga kali sehari pada awalnya, namun bila kondisi klinis sudah membaik (biasanya setelah beberapa minggu) dosis harus diturunkan 
  • Diberikan secara siklus, misalnya dalam pengobatan hipogonadism pada wanita. 
  • Dosis 0,05 mg tiga kali sehari selama 2 minggu pertama siklus menstruasi teoritis. 
  • Kemudian diikuti pemberian progesteron selama 2 minggu selanjutnya. 
  • Regimen ini dilanjutkan sampai 3-6 bulan 
  • Setelah itu pemberian dihentikan selama 2 bulan untuk melihat pengaruh terapi. 
  • Jika pasien dapat menstruasi tanpa pemberian terapi maka terapi dihentikan, namun apabila masih belum dapat, terapi diulang kembali 
  • Diberikan secara kronis, misalnya pada pengobatan paliatif kanker prostat yang semakin parah dan tak dapat dioperasi. 
  • Dosis 0,05 mg tiga atau empat kali sehari 
  • Untuk pengobatan paliatif kanker payudara yang semakin parah dan tak dapat dioperasi, dengan pertimbangan khusus, dosis 0,5 mg tiga kali sehari. 

Efek Samping:
  1. Terapi dengan senyawa-senyawa estrogen sintetik jangka panjang : 
  2. Meningkatkan risiko karsinoma endometrium, payudara, vagina, mulut rahim, dan hati. 
  3. Menyebabkan cacat pada janin yang dikandung, aborsi spontan, kelahiran prematur dan kehamilan ektopik. 
  4. Disamping dapat meningkatkan neoplasia dan kecacatan pada janin dalam kandungan, 
  5. Terapi estrogenik (termasuk sebagai kontraseptif oral) juga dapat menyebabkan: 
  6. Gangguan genitouterin, antara lain meningkatnya insidensi penyakit kandung kemih, perdarahan atau bercak, perubahan pola menstruasi (dismenorrhea, amenorrhea selama atau setelah terapi), PMS (premenstrual-like syndrome), kandidiasis vagina, dan lain-lain. 
  7. Payudara membesar dan kendur, kadang-kadang merangsang keluarnya ASI walaupun tidak sedang menyusui 
  8. Gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, kram lambung, kembung, jaundice. 
  9. Gangguan kulit, seperti chloasma atau melasma yang dapat menetap walaupun terapi sudah dihentikan, eritema,erupsi disertai perdarahan, rambut rontok. 
  10. Gangguan sistem syaraf pusat, seperti sakit kepala, migraine, pusing, depresi Tromboembolism. 
  11. Berat badan meningkat atau bahkan menurun. 
  12. Penurunan libido 

Peringatan dan atau Perhatian Etinilestradiol:
  1. Perhatian khusus: Terapi dengan senyawa-senyawa estrogen sintetik jangka panjang: 
  2. Meningkatkan risiko karsinoma endometrium: Banyak hasil penelitian, baik percobaan pada hewan maupun studi epidemiologi menunjukkan bahwa penggunaan estrogen sintetik dapat meningkatkan risiko karsinoma endometrium. 
  3. Meningkatkan risiko kanker payudara, vagina, mulut rahim, dan kanker hati. 
  4. Terapi estrogen pada pria (misalnya pada pengobatan prostat) juga dapat meningkatkan risiko kanker payudara. 
  5. Terhadap kehamilan: Senyawa-senyawa estrogen sintetik tidak boleh diberikan pada wanita hamil. 
  6. Penggunaan estrogen sintetik pada kehamilan trimester pertama dapat menyebabkan cacat pada janin yang dikandung, aborsi spontan, kelahiran prematur, dan kehamilan ektopik 
  7. Terhadap ibu menyusui: Tidak ada data 
  8. Terhadap anak-anak: Keamanan dan efektivitas mupirosin kalsium krim topikal pada anak 3 bulan sampai 16 tahun telah diketahui. 
  9. Penggunaan krim topikal pada anak didukung oleh bukti dari penelitian yang cukup dan terkontrol pada dewasa dan dari penelitian pada anak dengan jumlah terbatas. 
  10. Terhadap hasil laboratorium: Uji fungsi endokrin dan fungsi hepar tertentu dapat terganggu oleh terapi estrogenik, antara lain: 
  11. Peningkatan retensi sulfobromoftalein, peningkatan protrombin dan faktor VII, VIII, IX, dan X 
  12. Penurunan antihrombin 
  13. Peningkatan agregasi platelet yang diinduksi norepinefrin 
  14. Peningkatan nilai TBG (thyroid binding globulin) yang menyebabkan meningkatnya hormon tiroid total dalam sirkulasi 
  15. Toleransi glukosa terganggu 
  16. Penurunan ekskresi pregnandiol 
  17. Konsentrasi folat dalam serum menurun 
  18. Peningkatan kadar trigliserida dan fosfolipid serum 

Interaksi Dengan Obat Lain:
  1. Asetaminofen dan asam askorbat dapat meningkatkan level plasma komponen estrogen.
  2. Atorvastatin dan indinavir meningkatkan level plasma kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi hormonal kombinasi meningkatkan level plasma Alprazolam, klordiazepoksida, siklosforin, diazepam, prednisolon, selegilin, teofilin, antidepresan trisiklik.
  3. CYP3A4 induser dapat menurunkan level. efek etinilestradiol dan norethindron: contoh induser:aminoglutetimid, karbamazepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin dan rifamisin.
  4. Kontrasepsi hormonal kombinasi dapat menurunkan level plasma asetaminofen, asam klofibrat, lorazepam, morfin, oxasepam, asam salisilat, temazepam.
  5. Efek kontrasepsi dapat menurun oleh cetrien, aminoglutetimd, amprenavir, antikonvulsan, griseovulfin, lopinavir, nelfinavir, penisilin, rifampin, ritonavir, tetrasiklin, troglitazon.Kontrasepsi oral dapat menurunkan efek turunan kumarin.

Interaksi Dengan Makanan:
  1. Hindari alkohol, kafein (efek kafein terhadap SSP akan meningkat jika digunakan bersamaan dengan kontrasepsi hormonal kombinasi).
  2. Jus jeruk akan meningkatkan konsentrasi etinilestradiol.

Bentuk dan Kekuatan Sediaan Etinilestradiol:
Tablet 0,02 mg, 0,03 mg, 0,05 mg, 0,5 mg

Penyimpanan dan Stabilitas Etinilestradiol:
  • Simpan pada suhu 2-30°C. 
  • Hindarkan dari cahaya 

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.

Subscribe to receive free email updates: