Vitamin B6

Mekanisme kerja Vitamin B6 yaitu Prekursor terhadap piridoksal, yang berfungsi dalam metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Piridoksal juga berperan dalam pelepasan glikogen yang tersimpan dalam hepar dan otot, serta berperan dalam sintesis GABA (dalam SSP) dan heme.
Vitamin B6
struktur kimia Vitamin B6

Indikasi:
Pengobatan dan pencegahan defisiensi piridoksin (termasuk yang disebabkan karena reaksi obat yang tidak dikehendaki obat tertentu), pyridoxine-dependent seizures.

Kontra Indikasi:
Pasien dengan sejarah sensitivitas pada vitamin, hipersensitivitas terhadap piridoksin atau komponen lain dalam formulasi.

Dosis dan Cara Pemakaian:
Pemberian: per oral, injeksi IM, IV dan subkutan.
Untuk Indikasi Dietary Requirements and Replacement:
Rekomendasi kecukupan asupan vitamin oleh National Academy of Sciences (NAS):
  • Bayi sehat < 6 bulan: 0.01 mg/kg tiap hari
  • Bayi sehat 6-12 bulan: 0.03 mg/kg tiap hari
Recommended Dietary Allowance:
Anak-anak:
  • 1-3 tahun: 0.9 mg tiap hari
  • 4-6 tahun: 1,3 mg tiap hari
  • 7-10 tahun: 1,6 mg tiap hari
Dewasa:
  • Lak-laki: 1,7-2 mg tiap hari
  • Perempuan: 1.4-1,6 mg tiap hari
Defisiensi piridoksin:
  • Pyridoxine-dependent infants: Oral: 2-100 mg/hari ; IM, IV, SC: 10-100 mg
  • Anak-anak: rute pemberian oral; 5-25 mg/24jam selama 3 minggu, kemudian perlu diberikan sediaan multivitamin yang mengandung 1,5-2,5 mg/hari.
  • Dewasa: rute pemberian oral: 10-20 mg/hari selama 3 minggu.
Untuk terapi drug-induced defisiensi anemia atau neuritis (contoh: Isoniasid, hydralazine, penicillamine, cycloserine).
  • Anak-anak: rute pemberian oral: profilaksis: 1-2 mg/kg/24 jam; pengobatan: 10-50 mg/24 jam.
  • Dewasa: rute pemberian oral: profilaksis: 25-100 mg/24 jam; pengobatan: 100-200 mg/24 jam.

Kejang akibat defisiensi piridoxin:
  • Bayi dan neonatus: rute pemberian IM atau IV: dosis 10-100mg; umumnya kejang akan berhenti dalam 2-3 menit setelah pemberian obat.
  • Natioanal Academy of Sciences (NAS) memberikan rekomendasi penggunaan vitamin B6 bagi wanita hamil dengan dosis: 1,9 mg/hari.
  • Bagi wanita menyusui, NAS memberikan rekomendasi dosis 2 mg untuk memastikan konsentrasi vitamin B6 dalam air susu sebesar: 130 mg/mL.

Terapi kejang atau koma karena toksisitas akut isoniazid:
  • Anak-anak: Jika jumlah isoniazid diketahui: rute pemberian IV: dosis piridoksin awal-jumlah isoniazid yang diminum (dosis max: 70 mg/kg, sampai dengan 5 g)
  • berikan dengan kecepatan 0,5-1 g/menit sampai kejang berhenti atau dosis awal maksimum telah diberikan semuanya; dosis dapat diulang setiap 5-10 menit jika diperlukan untuk mengendalikan kejang yang menetap dan/atau keracunan pada SSP.
  • Apabila kejang berhenti sebelum seluruh dosis awal yang telah dihitung habis, berikan dosis sisanya selama lebih dari 4-6 jam.
  • Jika jumlah isoniazid tidak diketahui: rute pemberian IV: dosis piridoksin awal: 70 mg/kg (max 5 g)
  • berikan dengan kecepatan 0,5-1 g/menit; dosis dapat diulang setiap 5-10 menit jika diperlukan untuk mengendalikan kejang yang menetap dan/atau keracunan pada SSP.
  • Dewasa: Jika jumlah isoniazid diketahui: rute pemberian IV: dosis piridoksin awal=jumlah isoniazid yang diminum (dosis max 5 g)
  • berikan dengan kecepatan 0,5-1 g/menit sampai kejang berhenti atau dosis awal maksimum telah diberikan semuanya; dosis dapat diulang setiap 5-10 menit jika diperlukan untuk mengendalikan kejang yang menetap dan /atau keracunan pada SSP.
  • Apabila kejang berhenti sebelum seluruh dosis awal yang telah dihitung habis, berikan dosis sisanya selama lebih dari 4-6 jam.
  • Jika jumlah isoniazid tidak diketahui: rute pemberian IV: dosis piridoksin awal: 5 g; berikan dengan kecepatan 0,5-1 g/menit; dosis dapat diulang setiap 5-10 menit jika diperlukan untuk mengendalikan kejang yang menetap dan/atau keracunan pada SSP.
  • Antikonvulsan dapat diberikan bersama dengan piridosin.
Pencegahan kejang atau koma karena toksisitas akut isoniazid:
  • Anak-anak dan dewasa: Rute pemberian: IV; pasien yang tidak menunjukkan gejala setelah minum isoniazid dengan dosis yang berpotensi toksik (dalam 2 jam pertama), perlu mendapat piridoksin dengan dosis yang sama dengan dosis untuk terapi kejang atau koma karena toksisitas akut isoniazid.
Untuk indikasi Mushroom toxicity:
  • Anak-anak dan dewasa: Rute pemberian: IV; 25 mg/kg infus selama 15-30 menit, diulangi bila perlu untuk mengendalikan kejang.
Terapi toksisitas hydrazine
  • Dewasa: Rute pemberian IV; dosis total 25mg/kg diberikan selama lebih dari 15-30 menit.
Untuk indikasi Sideroblastic Anemia:
  • Rekomendasi dosis: 200-600 mg perhari.
  • Apabila tidak ada respon, pertimbangkan terapi lain, bila respon adekuat, dosis dapat diturunkan menjadi 30-50 mg tiap hari.

Efek Samping:
  1. Sistem saraf pusat: sakit kepala, kejang (khususnya setelah pemberian dosis IV yang sangat besar), mengantuk.
  2. Endokrin & metabolik: penurunan sekresi serum asam folat, asidosis.
  3. Gastrointestinal: Mual.
  4. Hepatik: Peningkatan AST.
  5. Neuromuskular & skeletal: neuropati, paresthesia.
  6. Lain-lain: reaksi alergi.

Peringatan dan atau Perhatian:
  1. Penggunaan dalam jangka waktu lama dan dengan dosis yang besar (>2g/hari) dapat menyebabkan neurotoksisitas.
  2. Ketergantungan dan gejala putus obat dapat muncul pada dosis > 200 mg/hari. Evaluasi defisiensi vitamin yang lain perlu dilakukan karena defisiensi vitamin tunggal jarang terjadi.
  3. Penggunaan pada wanita hamil: Faktor risiko kehamilan: A (FDA); risiko pada fetus kecil.
  4. Penggunaan pada wanita menyusui: Walaupun vitamin B6 masuk dalam ASI, risiko pada bayi terbukti kecil. Sehingga vitamin B6 dapat diberikan pada wanita menyusui/kompatibel.
  5. Penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal: dosis sama dengan penderita dengan fungsi ginjal normal.
  6. Pengaruh terhadap hasil pemeriksaan laboratorium: Penggunaan piridoksin dapat menyebabkan positif palsu pemeriksaan urobilinogen, apabila menggunakan reagen Ehrlich.

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
Tablet: 10 mg, 25 mg,
Ampul: 50 mg/ml, Ampul 100 mg/ml.

Penyimpanan dan Stabilitas:
Stabilitas:
  • Piridoksin HCl bersifat fotosensitif dan akan terdegradasi perlahan jika terpapar cahaya.
  • Penyimpanan: sediaan piridoksin HCl harus terlindung dari cahaya dan disimpan dalam wadah tertutup rapat pada temperatur < 40°C, lebih diutamakan pada 15-30°C.
  • Sediaan injeksi tidak boleh dibekukan.
Kompatibilitas:
  • Larutan infus: Emulsi lemak 10%.
  • Aditif: tidak ada data.
  • Y-site: tidak ada data.
  • dalam syringe: Doxapram HCl.
Inkompatibilitas:
  • Larutan infus: tidak ada data.
  • Aditif: tidak ada data.
  • Y-site: tidak ada data.
  • dalam syringe: tidak ada data.

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.

Subscribe to receive free email updates: