Sistem Saraf Otonom (SSO)

Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Di dalam sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion (Pratiwi, DA.1996. Biologi 2. Jakarta. Erlangga)


Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu (Pratiwi, DA.1996. Biologi 2. Jakarta)

Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan “nervus vagus” bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung. Selain itu, fungsi saraf otonom pada sistem saraf simpatik, diantaranya sebagai berikut:
  1. memperbesar pupil. 
  2. menghambat aliran ludah. 
  3. mempercepat denyut jantung. 
  4. mengecilkan bronkus. 
  5. menghambat sekresi kelenjar pencernaan. 
  6. menghambat kontraksi kandung kemih. 
Sedangkan, fungsi saraf otonom pada sistem saraf parasimpatik, diantaranya sebagai berikut:
  1. mengecilkan pupil. 
  2. menstimulasi aliran ludah. 
  3. memperlambat denyut jantung. 
  4. membesarkan bronkus. 
  5. menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan. 
  6. mengerutkan kantung kemih (Pratiwi, DA.1996. Biologi 2. Jakarta. Erlangga) 
Kelenjar saliva merupakan salah satu kelenjar dalam sistem pencernaan yang akan meningkat aktivitasnya jika distimulasi oleh sistem saraf parasimpatik atau oleh obat-obat parasimpatomimetik. Tetapi sebaliknya, jika diberikaan obat-obat yang aktivitasnya berlawanan dengan sistem parasimpatik atau bersifat parasimpatolitik, maka aktivitas kelenjar saliva akan menurun.

Daftar Pustaka:
  • Achmad.S. A. 1989. Analisis Metabolit Sekunder. UGM press. yogyakarta. 
  • Anonim, 2006. Knowledge Antomi. Progam animasi anatomi. 
  • Amrun Hidayat. M. 2005. Alkaloid Turunan Triptofan. 
  • Betram. G. katzung. 2004. Farmakologi dasar dan klinik. EGC. Jakarta. 
  • Jay,than hoon dan kirana,raharja. 2002. Obat-obat penting. Gramedia Jakarta. 
  • Mursyidi, achmad. 1989. Analisis metabolit sekunder. UGM. Yogyakarta. 
  • Pearce, Evelyn C. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. 2002. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum. 
  • Pratiwi, DA.1996. Biologi 2. Jakarta. Erlangga.

Subscribe to receive free email updates: