Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi Lapis Tipis-Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan diantara dua fase, salah satu fasa tersebut adalah soatu lapisan stasioner dengan permukaan yang luas, yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut disepanjang landasan stasioner.

Dalam tehnik kromatografi zat-zat terlarut yang dipisahkan bermigrasi sepanjang kolom, atau seperti dalam kromatografi kertas atau lapis tipis, ekivalen fisik kolom, dan tentu saja dasar pemisahan terletak pada laju perpindahan yang berbeda untuk larutan yang berbeda (Khopkar, 2007).

Kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi kertas (KKt) adalah metode kromatografi cair yang paling sederhana yang akan disajikan. Karena di sebagian besar laboratorium KKt telah diganti dengan KLT. Kromatografi Lapis Tipis dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparative. Kedua, dipakai untuk menjajaki sistem pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi (Gritter, Roy,J. 1991:107-108).

Kromatografi lapis tipis ( KLT ) dikembangkan oleh Izmailof dan Schaiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan elektroporesis. Berbeda dengan kromatografi kolom yang mana fasa diamnya diisikan atau dikemas didalamya pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, plat amilum atau dapat dikatakan sebagai bentuk-bentuk terbuka dari kromatogarfi kolom (Anonim, 2009).

Pada hakikatnya Kromatografi Lapis Tipis (KLT) melibatkan dua peubah, sifat fasa diam atau lapisan, dan sifat fasa gerak atau campuran pelarut pengembang, fasa diam dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai penyangga kromatografi cair-padat, atau berfungsi sebagai penyangga untuk lapisan zat cair (kromatografi cair-cair), fasa diam pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) sering disebut penyerap (Day, 2002: 497).

Fasa diam Kromatografi Lapis Tipis (KLT) terbuat dari serbuk halus dengan ukuran 5-50 cm, serbuk halus ini dapat berupa suatu adsorbs, suatu penukar ion, suatu pengayak molekul atau dapat merupakan penyangga yang dilapisi suatu cairan yang membuat lapisan tipis menjadi bubur (slury), yang berair dari serbuk tadi. Zat pengikat seperti gipz, barium sulfat, polivinil (Soebagio, 2003:87).

Pertimbangan untuk memilih pelarut pengembang (eluen) umumnya sama dengan pemilihan eluen untuk kromatografi adsorbs pengelusi eluen naik sejalan dengan polaritas missal (heksana, aseton, alcohol dan air). Eluen pengembang dapat dapat berupa pelarut tunggal atau campuran pelarut dengan susunan tertentu. Pelarut-pelarut pengembang harus mempunyai kemurnian yang tinggi. Terdapatnya sejumlah kecil air atau zat pengotor lainnya dapat menghasilkan kromatografi yang tidak diharapkan (Soebagio, 2003:88).

Deteksi terhadap noda yang timbul pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) kadang-kadang lebih mudah dibandingkan kromatografi kertas karena dapat dipakai cara-cara yang lebih umum. Untuk senyawa organic dipakai cara menyemprot lempeng dengan asam sulfat kemudian dipanaskan sampai senyawa seperti orang dan timbul noda-noda hitam. Cara ini adalah cara kualitatif (Tim dosen, 2010:13).

Data yang diperoleh dari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah nilai RF yang berguna untuk identifikasi senyawa. Nilai RF untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai RF dari senyawa standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa (Underwood, 1986:286).

Subscribe to receive free email updates: