Glimepirid

Glimepirid adalah obat untuk meningkatkan jumlah insulin yang dilepaskan oleh pankreas dan mengatasi kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes tipe 2.
Glimepirid
Glimepirid bekerja terutama menurunkan kadar glukosa darah dengan perangsangan sekresi insulin dari sel beta pankreas yang masih berfungsi. Selain itu, aktivitas sulfonilurea seperti glimepirid dapat juga melalui efek ekstra pankreas, hal ini didukung oleh studi preklinis dan klinis yang menunjukkan bahwa pemberian glimepirid dapat meningkatkan sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin.

Indikasi Glimepirid:
Diabetes Melitus Tipe II yang tidak dapat dikendalikan hanya dengan diet dan olahraga.

Kontra Indikasi:
  1. Hipersensitif terhadap glimepirid atau senyawa OHO golongan sulfonilurea lainnya 
  2. Gangguan fungsi hati dan ginjal yang cukup berat 
  3. Ketoasidosis atau riwayat ketoasidosis 
  4. Diabetik pra koma atau koma 
  5. Kehamilan 
  6. Menyusui 

Dosis dan Cara Pemakaian:
  1. Terapi OHO (Obat Hipoglikemik Oral) selalu dimulai dari dosis rendah 1 kali pemberian per hari, setelah itu dosis dapat dinaikkan sesuai dengan respons terhadap obat 
  2. Dosis rendah dapat diberikan 1 kali sehari, sebelum atau bersama sarapan, dosis tinggi diberikan dalam dosis terbagi 
  3. Glimepirid dapat diberikan bersama metformin atau insulin. 
  4. Dosis awal 1-2 mg sekali sehari, pada saat sarapan pagi. 
  5. Bagi penderita yang lebih sensitif dosis dimulai dengan 1 mg sekali sehari. 
  6. Sesuai dengan respon pasien, dosis dapat ditingkatkan sampai 4 mg sekali sehari. 
  7. Dosis maksimum yang dianjurkan 8 mg per hari 
  8. Menaikkan dosis setelah 2 mg per hari harus dilakukan secara bertahap, tidak boleh lebih dari 2 mg per interval waktu 1-2 minggu. 

Efek Samping Glimepirid:
  1. Efek samping utama yang harus diwaspadai adalah hipoglikemia. 
  2. Gambaran klinis hipoglikemik yang parah menyerupai stroke. 
  3. Disamping itu dapat juga terjadi efek samping lain, berupa gangguan saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat seperti: sakit kepala, pusing, lapar, tubuh lemas, lelah, mual, muntah, mengantuk, tidur terganggu, daya konsentrasi dan kewaspadaan menurun, depresi, bingung, gangguan bicara, gangguan penglihatan, tremor, gangguan syaraf sensoris, dan lain-lain 
  4. Kemungkinan dapat pula terjadi gejala-gejala kounter-regulasi adrenergik, seperti berkeringat, kulit lembab, cemas, takhikardia, hipertensi, palpitasi, dan lain-lain. 
  5. Gejala hematologik termasuk leukopenia, trombositopenia, agranulosistosis dan anemia aplastik dapat terjadi walau jarang sekali. 
  6. Golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan berat badan. 

Peringatan dan atau Perhatian:
Terapi OHO (Obat Hipoglikemik Oral) selalu dimulai dari dosis rendah 1 kali pemberian per hari, setelah itu dosis dapat dinaikkan sesuai dengan respons terhadap obat.

Interaksi Dengan Obat Lain:
Obat yang dapat meningkatkan resiko hipoglikemia sewaktu pemberian sulfonilurea ialah insulin, alkohol, fenformin, sulfonamid, salisilat dosis besar, fenilbutazon, oksifenbutazon, probenesid, dikumarol, kloramfenikol, penghambat MAO, guanetidin, anabolik steroid, fenfluramin dan klofibrat.

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
Tablet 1 mg, 2 mg dan 4 mg.

Penyimpanan:
  • Stabil jika disimpan dalam wadah tertutup rapat, jauh dari lembab, panas dan cahaya matahari langsung. 
  • Shelf life lebih kurang 36 bulan, jika disimpan dalam kondisi yang sesuai antara pada suhu < 25°C. 

Pustaka:
- MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
- ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.

Subscribe to receive free email updates: