Fluconazole

Fluconazole adalah sintetik derivatif triazol, suatu senyawa antifungal azol. Fluconazole Menganggu aktifitas sitokrom P450 (lanosterol 14-a demethylase), menurunkan sintesis ergosterol dan menghambat pembentukan membran sel jamur. Struktur kimia yang mengandung cincin imidazol dengan cincin triazol menyebabkan meningkatnya aktivitas antifungi dan memperluas aktivitas spektrum antifungi.
Fluconazole

Indikasi Fluconazole:
Pengobatan candidiasis (vaginal, oropharyngeal, esophageal, infeksi saluran urin), peritonitis, pneumonia, dan infeksi systemic); meningitis cryptococcal, profiaksis antijamur pada transplantasi sumsum tulang.

Kontra Indikasi Fluconazole:
Hipersensitivitas terhadap fluconazole, azol yang lain, atau beberapa komponen yang terdapat dalam formulasi sediaan; penggunaan bersamaan dengan Cisapride.

Dosis dan Cara Pemakaian:
1. Cara Pemberian Fluconazole:
  • Flukonazole diberikan secara oral maupun infus iv. Karena absorpsi Flukonazole pada saluran pencernaan cepat dan hampir sempurna sehingga rute iv biasanya hanya diberikan pada pasien ang tidak dapat menggunakan obat secara oral. 
  • Dosis harian fluconazole sama untuk oral maupun intravena. 
  • Secara oral fluconazole boleh diberikan dengan atau tanpa makanan. 
  • Secara IV infus: diberikan sekali sehari, diberikan selama 1-2 jam, tidak boleh lebih dari 200 mg/jam.
  • Larutan infus iv harus dibuang jika menjadi keruh atau ada endapan, atau segel kemasan sudah terbuka. 
2. Dosis lazim Fluconazole:
  • Neonatus: s/d usia 2 minggu, khususnya prematur: dosisnya sama dengan dosis anak tetapi diberikan setiap 72 jam. 
  • Anak: Loading dose: 6-12 mg/kgBB; dosis maintenance: 3-12 mg/kgBB/hari
  • lama pemberian dan dosis tergantung pada keparahan infeksi. 
  • Dewasa: 200-800 mg/hari; lama pemberian dan dosis tergantung pada keparahan infeksi. 
  • Pengaturan dosis/interval pada pasien gangguan ginjal: pada vaginal candidiasis dengan terapi single dose: tidak perlu pengaturan dosis. 
  • Untuk multiple dose: berikan loading dose yang sama kemudian dosis harian diatur sebagai berikut: 
  • ClCr < 50 mL/menit (tidak dialisis): diberikan 50% dosis yang direkomendasikan atau diberikan setiap 48 jam. 
  • Hemodialisis: 50% dosis dikeluarkan dengan hemodialisis; berikan 100% dosis harian (tergantung indikasi), sesudah setiap dilakukan dialisis. 

Efek Samping Fluconazole:
  1. Cardiovascular: angioedema, pallor, QT memanjang, torsade de pointes. 
  2. CNS: sakit kepala, kejang, pusing (dizziness). 
  3. Dermatologi: rash, alopecia, toxic epidermal necrolysis (TEN), Stevens -Jhonson syndrome. 
  4. Endokrin dan metabolik: hiperkolesterolemia, hipertrigliceridemia, hipokalemia. 
  5. Gastrointestinal: Mual, nyeri perut, diare, muntah, dispepsi, taste pervension. 
  6. Hematologi: agranulositosis, leukopenia, trombositopenia dan netropenia. 
  7. Hepatik: peningkatan alkalin phospatase, peningkatan ALT dan AST, kolestasis, hepatic failure (jarang), hepatitis, jaundice. 
  8. Respiratory: dyspnea. 
  9. Lain-lain: reaksi anafilaktik (jarang), demam, oedema, efusi pleura, oliguria, hipotensi, nyeri sendi/nyeri otot, hipokalemia, peningkatan BUN dan serum kreatinin, peningkatan kreatin kinase dan kreatin pospokinase. 

Peringatan dan atau Perhatian:
  1. Hati-hati pada pasien dengan: gangguan fungsi ginjal dan liver, atau sebelumnya pernah mengalami hepatotoksik dengan derivat azol yang lain. 
  2. Abnormal LFT selama terapi fluconazole, sebaiknya dimonitor secara ketat dan terapi dihentikan jika penyakit livernya menetap (resiko nekrosis hepar). 
  3. Rash pada kulit: monitor ketat jika terjadi exfoliative kulit. 
  4. Gangguan aritmia jantung. 

Interaksi Dengan Obat Lain:
  1. Menghambat metabolisme/transportasi CYP1A2 (lemah), 2C8/9 (kuat), 2C19 (kuat), 3A4 (sedang)
  2. Hindari penggunaan bersamaan dengan Arthemeter, Cisapride, Clopidogrel, Conivaptan, Dofetilide, Dronedaron, Everolinus, Lumevantrin, Nilotinib, Pimozide, Quinidine, Quinine, Ranolazine, Tetrabenazine, Thioridazine, Tolvaptan, Ziprasidone.
  3. Meningkatkan efek/toksisitas: alventanyl, aprepitan, benzodiazepin, bosentan, buspiron, busulphan, calcium channel bloker, carbamazepine, cardiac glikosid, carvedilol, cilostazol, cinacalcet, cisapride, citalopram, colchicine, conivaptan, corticosteroid (oral inhalasi, sistemik), cyclosporin, docetaxel, dovetilide, dronedaron, eletriptan, eplerenone, erlotinib, eszopiclone, everolimus, fentanyl, fosaprepitan, gefitinib, HMG - CoA reductase inhibitor, imatinib, irbesartan, irinotecan, losartan, macrolide antibiotic, methadone, phenytoin, phospodiesterase 5 inhibitor, pimecrolimus, pimozide, protease inhibitor, proton pump inhibitor, QTc prolonging agent, quinidine, quinine, ramelteon, ranolazine, repaglinide, rifamycin, salmetarol, saxagliptin, sirolimus, solifenacin, sulfonylurea, sunitinib, tacrolimus sistemik maupun topikal, tetrabenazine, thioridazine, tolterodine, tolvaptan, trimetrexate, vitamin k antagonis, zidovudine, ziprasidone, zolpidem.
  4. Kadar/efek fluconazole dapat ditingkatkan pleh alfuzosin, arthemeter, chloroquin, ciprofloxacin, gadobutrol, grapefruit juice, lumefantrin, antibiotic macrolide, nilotinib, protease inhibitor, quinine
  5. Fluconazol menurunkan efek: amphetericin B, clopidogrel, Saccharomyces boulardii
  6. Kadar/efek fluconazole dapat diturunkan oleh Didadosine, phenytoin, derivat rifamycin, sucralfat.
Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
1. Kapsul: 50 mg, 150 mg, 200 mg
2. Infus: 200 mg/100 mL

Penyimpanan:
  • Simpan pada suhu kamar. 
  • Infus: simpan infus dalam kemasan aslinya (gelas) pada suhu 5-30°C. 
  • Hindari pembekuan (freezing). 
  • Jangan dibuka kemasannya hingga obat akan digunakan. 

Pustaka:
- MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
- ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.
loading...

Subscribe to receive free email updates: