pengertian Emulsi dan tipe emulsi

loading...
Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan zat cair lainnya (fase pendispersi). Emulsi tersusun atas tiga komponen utama, yaitu: Fase terdispersi, fase pendispersi, dan emulgator.
Emulsi
Tujuan Pembentukan Emulsi:
Tujuan dari pembuatan sediaan menjadi emulsi yaitu:
  1. Meningkatkan kelarutan. 
  2. Meningkatkan stabilitas. 
  3. Memperbaiki penampilan. 
  4. Menutupi rasa tidak enak. 
  5. Efek obat diperlambat. 
Ada dua tipe emulsi, yaitu:
  1. Emulsi A/M (Air Dalam Minyak) yaitu butiran-butiran air terdispersi dalam minyak 
  2. Emulsi M/A (Minyak Dalam Air)  yaitu butiran-butiran minyak terdispersi dalam air. 
Pada emulsi A/M, maka butiran-butiran air yang diskontinyu terbagi dalam minyak yang merupakan fase kontinyu, Sedangkan untuk emulsi M/A adalah sebaliknya. Kedua zat yang membentuk emulsi ini harus tidak atau sukar membentuk larutan dispersirenik

Surfaktan (surface active agent) atau zat aktif permukaan,adalah senyawa kimia yang terdapat pada konsentrasi rendah dalam suatu system, mempunyai sifat teradsorpsi pada permukaan antarmuka pada system tersebut. Energi bebas permukaan-antarmuka adalah kerja minimum yang diperlukan untuk merubah luas permukaan-antarmuka.

Cara Menentukan Tipe Emulsi
Untuk mengetahui sediaan emulsi ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu:
1. Uji pengenceran
Metode ini tergantung pada kenyataan bahwa suatu emulsi M/A dapat diencerkan dengan air dan emulsi A/M dengan minyak. Saat minyak ditambahkan, tidak akan bercampur ke dalam emulsi dan dan akan nampak nyata pemisahannya. Tes ini secara benar dibuktikan bila penambahan air atau minyak diamati secara mikroskop.

2. Uji Konduktivitas
Emulsi dimana fase kontinyu adalah cair dapat dianggap memiliki konduktivitas yang tinggi dibanding emulsi dimana fase kontinyunya adalah minyak. Berdasarkan ketika sepasang elektrode dihubungkan dengan sebuah lampu dan sumber listrik, dimasukkan dalam emulsi M/A, lampu akan menyala karena menghantarkan arus untuk kedua elektrode. Jika lampu tidak menyala, diasumsikan bahwa sistem A/M.

3. Uji Kelarutan Warna
Bahwa suatu pewarna larut air akan larut dalam fase berair dari emulsi. Sementara zat warna larut minyak akan ditarik oleh fase minyak. Jadi ketika pengujian mikroskopik menunjukkan bahwa zat warna larut air telah ditarik untuk fase kontinyu, uji ini diulangi menggunakan sejumlah kecil pewarna larut minyak, pewarnaan fase kontinyu menunjukkan tipe A/M.

Keuntungan Sediaan Emulsi:
Beberapa keuntungan sediaan emulsi yaitu:
  1. Banyak bahan obat yang mempunyai rasa dan susunan yang tidak menyenangkan dan dapat dibuat lebih enak pada pemberian oral bila diformulasikan menjadi emulsi. 
  2. Beberapa obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat tersebut diberikan secara oral dalam bentuk emulsi. 
  3. Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah discuci bila diinginkan. 
  4. Formulator dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan kekasaran (greasiness) dari emulsi kosmetik maupun emulsi dermal. 
  5. Emulsi telah digunakan untuk pemberian makanan berlemak secara intravena akan lebih mudah jika dibuat dalam bentuk emulsi. 
  6. Aksi emulsi dapat diperpanjang dan efek emollient yang lebih besar daripada jika dibandingkan dengan sediaan lain. 
  7. Emulsi juga memiliki keuntungan biaya yang penting daripada preparat fase tunggal, sebagian besarlemak dan pelarut-pelarut untuk lemak yang dimaksudkan untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia relatif memakan biaya, akibatnya pengenceran dengan suatu pengencer yang aman dan tidak mahal seperti air sangat diinginkan dari segi ekonomis selama kemanjuran dan penampilan tidak dirusak. 

Kerugian Sediaan Emulsi:
Selain keuntungan, ada juga kerugian atau kekurangan sediaan emulsi yaitu:
  1. Emulsi kadang-kadang sulit dibuat dan membutuhkan tehnik pemprosesan khusus.
  2. Untuk menjamin karya tipe ini dan untuk membuatnya sebagai sediaan yang berguna, emulsi harus memiliki sifat yang diinginkan dan menimbulkan sedikit mungkin masalah-masalah yang berhubungan. 
Bentuk ketidakstabilan emulsi:
  1. Flokulasi: dikarenakan emulgator kurang, lapisan pelindung tidak menutupi semua bagian globul sehingga 2 globul bersatu membentuk aggregat. 
  2. Koalescens: dikarenakan hilangnya lapisan film dan globul semakin besar dan bersatu. 
  3. Kriming: dikarenakan adanya pengaruh gravitasi sehingga terjadi pemekatan di permukaan dan di dasar. 
  4. Inversi fasa: dikarenakan adanya perubahan viskositas. 
  5. Breaking/demulsifikasi: pecah akibat hilangnya lapisan film karena pengaruh suhu.
loading...

Subscribe to receive free email updates: