Bupivakain

Bupivakain adalah obat anestesi (bius) yang menghalangi impuls saraf mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Bupivakain diberikan sebagai suntikan epidural ke dalam tulang belakang untuk menghasilkan mati rasa selama persalinan, operasi, atau prosedur medis tertentu.
Bupivakain
Indikasi:
Digunakan untuk lokal anestesi (injeksi) untuk blok saraf perifer, infiltrasi, blok simpatis, blok ekor atau epidural, blok retrobulbar.

Kontra Indikasi:
  • Hipersensitif terhadap bupivakain hcl
  • Anestesi lokal tipe amida, atau komponen formula
  • Anestesi obstretik paraservikal.

Dosis dan Cara Pemakaian:
  • Dosis bervariasi bergantung pada prosedur, dalamnya anastesi, perfusi jaringan, lamanya anastesi, dan kondisi pasien serta ada/tidaknya epinefrin dalam larutan suntikan.
  • Dosis dewasa dan anak >12 tahun: anastesi lokal infiltrasi 0,25% maksimum 175 mg,
  • Blok saraf perifer: 5 ml larutan 0,25 - 0,5 %; maksimum 400 mg/hari.
  • Blok kaudal (tanpa pengawet): 15-30 ml larutan 0,25-0,5%
  • Blok saraf simpatik 20-50 ml larutan 0,25%.
  • Blok lumbar/epidural (tanpa pengawet): 10-20%larutan 0.25%/0.5% dengan pemberian bertahap 3-5 ml untuk mendeteksi reaksi toksik suntikan intravena atau intratekal.
  • Test epidural 0,5% dengan epinefrin 1:200.000.
  • Anestesi retrobular: 2-4 ml larutan 0,75%
  • Dewasa: anestasi spinal (tanpa pengawet): 0.75% dalam dekstrosa 8,25%: prosedur perinial dan anggota tubuh bawah: 1,6 ml
  • Persalinan per vagina normal: 0.8 ml (dosis lebih tinggi mungkin dibutuhkan pada beberaoa pasien)
  • Seksio cesarean: 1-1,4 ml.

Efek Samping:
  1. Insiden efek samping sulit ditetapkan.
  2. Sebagian besar efek bergantung pada dosis, dan sering karena percepatan absorpsi di tempat suntikan, suntikan intravaskuler yang tidak disengaja, atau degradasi metabolit yang lambat.
  3. Munculnya gejala sistem saraf pusat dapat menjadi tanda awal toksisitas yang lebih nyata (seizure).
  4. Kardiovaskuler: hipotensi, bradikardia, palpitasi, blok jantung, aritmia ventrikuler, henti jantung.
  5. Sistem saraf pusat: gelisah, cemas, pusing, seizure
  6. gejala yang jarang, (seringkali akibat suntikan yang tidak disengaja ke subarachnoid pada saat anestesi spinal): anestesi persisten, parestesia (kesemutan), paralisis, sakit kepala, sepsis meningitis,dan palsia saraf kranial.
  7. Saluran cerna: mual, muntah, gejala yang jarang (biasanya berkaitan dengan ketidaksengajaan suntikan ke subaracoid pada saat anestesi spinal): inkontinensia dan hilangnya kontrol sfingter fekal.
  8. Saluran urin dan genital: gejala yang jarang biasanya berkaitan dengan ketidak sengajaan suntikan ke subaracnoid pada saat anestesi spinal): inkontinensia urin, hilangnya sensasi perineal dan hilangnya fungsi seks.
  9. Otot saraf: lemah,
  10. Mata: pandangan kabur, konstriksi pupil.
  11. Telinga: telinga berdenging.
  12. Pernapasan
  13. apnea, hipoventilasi (biasanya berkaitan dengan ketidaksengajaan suntikan ke subaracniod pada saat anestesia spinal).
  14. Lain-lain: alergi (urtikaria, pruritus,angiodema, reaksi anafilaksis).

Peringatan dan atau Perhatian:
  1. Jangan gunakan larutan suntikan yang mengandung pengawet untuk memblok epidural dan kaudal.
  2. Gunakan hati-hati pada pasien dengan gagal hati.
  3. Tidak direkomendasikan digunakan untuk anak usia <12 tahun.
  4. Larutan anestesi spinal sebaiknya tidak digunakan untuk anak <18 tahun.
  5. Anestesi lokal dilaporkan terkait dengan dengan terjadinya kasus yang jarang: henti nafas tiba-tiba, konvulsi karena toksisitas sistemik mengarah ke henti jantung mungkin akibat ketidaksengajaan suntikan intravaskuler.
  6. Tes dosis direkomendasikan dilakukan sebelum pemberian epidural dan semua dosis penguatan dengan teknik kateter berkelanjutan.
  7. Hati-hati pada penggunaan penderita dengan disfungsi kardiovaskuler.
  8. Hati-hati penggunaan pada geriatri, keterbelakangan atau sakit akut; mungkin dosis harus diturunkan.
  9. Alat resusitasi, oksigen dan obat resusitasi harus disediakan.
  10. Pengaruh Terhadap Kehamilan: Faktor risiko C.
  11. Penurunan populasi yang bertahan hidup dan efek embriosidal ditemukan pada studi hewan.
  12. Obat ini diperbolehkan digunakan pada anestesi atau analgesi obstetrik (konsentrasi 0,75% tidak direkomendasikan.
  13. Bupivakain 0,75% berkaitan dengan henti jantung pada anestesi epidural pada pasien obstetrik. Penggunaan anestesi paraservikal dikontraindikasikan.
  14. Pengaruh Terhadap Ibu Menyusui: Tidak direkomendasikan karena masuk kedalam air susu ibu.
  15. Pengaruh Terhadap Anak-anak: Tidak direkomendasikan digunakan untuk anak usia <12 tahun

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
Injeksi: ampul 5mg/ml, 5mg/5ml
vial 100mg/20ml

Penyimpanan:
Simpan pada suhu ruang yang terkontrol: 15-30°C.

Pustaka:
- MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
- ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.

Subscribe to receive free email updates: