Atenolol

Atenolol merupakan obat Kardiovaskuler dan Antihipertensi. Atenolol melambatkan aktivitas jantung. sehingga jantung akan bekerja lebih pelan dengan tenaga lebih sedikit. Ini memungkinkan pengurangan tekanan dalam pembuluh darah bagi penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi


Atenolol. mipa-farmasi.com

Indikasi:
Pengobatan hipertensi, tunggal atau dalam kombinasi dengan agen lainnya, manajemen angina pektoris, akut infark miokard

Kontra Indikasi:
  1. Asma, gagal jantung yang tidak terkontrol, angina Prinzmetal, bradikardi, hipotensi, sick sinus syndrome, AV blok derajat dua atau tiga (second-or third-degree AV block).
  2. Syok kardiogenik, asidosis metabolik, penyakit arteri perifer yang parah, phaeochromocytoma (selain penggunaan bersamaan dengan penyekat a

Dosis dan Cara Pemakaian:
  • Angina pektoris stabil dan kronis: dosis awal atenolol oral 50 mg 1 kali per hari.
  • Bila respon optimum tidak tercapai dalam 1 minggu, dosis harus dinaikkan menjadi 100 mg 1 kali per hari; beberapa pasien mungkin memerlukan dosis atenolol 200 mg.
  • Dosis penyekat ß-adrenergik pada angina pektoris biasanya disesuaikan dengan respon klinis dan untuk menjaga denyut jantung istirahat sekitar 55-60 denyut/menit.
  • Pada pasien dengan angina tidak stabil atau infark miokard dengan non-ST segmen elevasi yang beresiko tinggi untuk kejadian iskemik, terapi dapat dimulai dengan dosis i. bolus (loading dose) penyekat beta (pada pasien yang mentoleransi terapi i.) dilanjutkan dengan konversi ke oral. i. atenolol dapat diberikan dalam kelipatan 5 mg dengan waktu pemberian selama 2-5 menit, diulangi setiap 5 menit sampai total 10 mg.
  • Pasien yang cocok dengan dosis i. boleh diganti ke oral 1-2 jam setelah dosis i. terakhir.
  • Terapi oral dapat dimulai dengan dosis atenolol 50-100 mg/hari; setelah itu dosis pemeliharaan 50-200 mg/hari.
  • Target denyut jantung istirahat dengan penyekat ß-adrenergik pada pasien dengan angina tidak stabil adalah 50-60 denyut per menit tanpa adanya efek samping yang membatasi dosis.
  • Infark miokard akut: pengobatan dengan atenolol harus dimulai segera dengan dosis 2,5-5 mg i. dengan lama pemberian 2-5 menit; bila ditoleransi, dapat diberikan setiap 2-10 menit dengan dosis tambahan 2,5-5 mg i. dengan kecepatan pemberian yang sama sampai total dosis 10 mg dalam waktu 10-15 menit.
  • Terapi harus dihentikan bila efikasi terapeutik tercapai (misalnya, melambatnya kecepatan ventrikular pada fibrilasi atrial) atau bila tekanan darah sistolik atau denyut jantung sudah turun menjadi 100 mmHg atau 50 denyut per menit.
  • Terapi diteruskan dengan atenolol oral 50 mg yang diberikan 10 menit setelah total dosis i. 10 mg tercapai dan 50 mg lagi 12 jam kemudian.
  • Atenolol oral diteruskan selama 6-9 hari (atau sampai kontraindikasi [misalnya bradikardi atau hipotensi yang memerlukan pengobatan] terbentuk atau pasien pulang) dengan dosis 100 mg/hari sebagai dosis tunggal atau terbagi 2.
  • Bila perlu, dosis oral dapat dikurangi menjadi 50 mg/hari.
  • Fibrilasi atrial: untuk memperlambat respon ventrikular yang cepat setelah infark miokard akut bila disfungsi ventrikular kiri dan AV blok tidak ada, atenolol diberikan i. infus 2,5-5 mg dengan lama pemberian 2-5 menit bila perlu untuk mengontrol kecepatan ventrikular, dosis total sampai 10 mg selama perioda waktu 10-15 menit.
  • Terapi dihentikan bila efikasi terapeutik tercapai atau tekanan darah turun sampai < 100 mm Hg atau denyut jantung pelan sampai < 50 denyut per menit.
  • Untuk pengobatan takiaritmia supraventrikular lainnya (misalnya atrial flutter, junctional tachycardia, ectopic tachycardia, multifocal atrial tachycardia, paroxysmal supraventricular tachycardia [PSVT]) pada orang dewasa, atenolol secara i. infus perlahan dengan dosis 5 mg (waktu pemberian 5 menit) telah digunakan.
  • Bila aritmia menetap 10 menit setelah dosis pertama dan dosis pertama ditoleransi, dosis kedua 5 mg telah diberikan dengan i.v infus perlahan (selama 5 menit).
  • Migrain: Walaupun dosis atenolol untuk pencegahan migrain belum ditetapkan, dosis biasa yang efektif pada studi klinis adalah 100 mg per hari
Efek Samping:
  1. Efek ke jantung: bradikardi
  2. hipotensi
  3. (AV) blok atrioventrikular derajat kedua atau tiga; dan mempercepat parahnya gagal jantung, yang biasanya terjadi pada pasien yang sudah mempunyai disfungsi ventrikular kiri.
  4. Sick sinus syndrome telah dilaporkan; dinginnya kaki tangan, postural hipotensi, dikaitkan dengan syncope); dan sakit kaki
  5. Efek ke SSP: pusing, letih, depresi.
  6. Lesu, mengantuk, mimpi yang tidak biasa, dan vertigo.
  7. Sakit kepala dan halusinasi juga telah dilaporkan.
  8. Efek samping lain yang terlihat pada penggunaan penyekat beta dapat juga terjadi pada penggunaan atenolol seperti gangguan penglihatan, disorientasi, gangguan memori jangka pendek, emosi yang labil, psikosis, dan katatonia.
  9. Efek ke saluran pencernaan: diare, mual, dan mulut kering juga telah dilaporkan.
  10. Efek endokrin: penggunaan penyekat ß-adrenergik pada pasien hipertensi meningkatkan resiko tipe 2 diabetes mellitus.
  11. Penyekat ß-adrenergik dapat menutupi tanda-tanda dan gejala hipoglikemi (seperti palpitasi, tahikardi, tremor) dan memperkuat efek hipoglikemi yang disebabkan oleh insulin.
  12. Efek samping yang lain: Ruam, eksaserbasi psoriasis, sindroma lupus, mata kering, gangguan penglihatan, alopesia yang reversibel, penyakit Peyronie, antinuclear antibodies (ANA), impoten, meningkatnya konsentrasi enzim liver dan bilirubin, purpura, Fenomena Raynauld, dan trombositopenia juga telah dilaporkan.Reaksi alergi: demam, sakit kerongkongan, spasme laring, dan respiratory distress.

Peringatan dan atau Perhatian:
  1. Penyekat ß tidak boleh diberikan kepada pasien dengan bronkospasme atau asma atau yang mempunyai riwayat penyakit aliran udara obstruktif.
  2. Tetapi penyekat ß kardioselektif seperti atenolol dapat diberikan dengan sangat hati-hati sekali bila pengobatan alternatif yang lain tidak ada.
  3. Walaupun penyekat ß digunakan dalam menangani gagal jantung, obat ini tidak boleh diberikan pada gagal jantung yang tidak terkontrol dan pengobatan dimulai dengan sangat hati-hati.
  4. Pasien dengan pheochoromocytoma tidak boleh mendapatkan penyekat ß tanpa pemberian terapi dengan penyekat a-adrenoreseptor bersamaan.
  5. Penyekat ß dapat menutupi simptom hipertiroid dan hipotiroid.
  6. Psoriasis dapat diperparah. Sakit dada telah dilaporkan pada pasien dengan angina Prinzmetal.
  7. Pemberhentian penyekat ß secara tiba-tiba kadang-kadang telah dikaitkan dengan angina, infark miokard, aritmia ventrikular, dan kematian.
  8. Pada pasien dengan pengobatan jangka panjang, penyekat ß harus diberhentikan dalam periode 1-2 minggu.
  9. Selama waktu perioperatif penyekat ß dapat terus diberikan walaupun beberapa pendapat menyarankan pemberhentian sementara dan perlahan-lahan.
  10. Bila penyekat ß tidak diberhentikan sebelum anestesi, obat seperti atropin dapat diberikan untuk meningkatkan vagal tone.
  11. Obat anestesi yang menyebabkan depresi miokard, seperti eter, siklopropan, dan trikloroetilen sebaiknya dihindari.
  12. Pengaruh Terhadap Kehamilan Kategori D.
  13. Atenolol menembus plasenta. Atenolol dapat membahayakan fetus bila diberikan ke ibu hamil.
  14. Tidak ada studi penggunaan atenolol pada trimester pertama kehamilan dan kemungkinan bahaya ke fetus tidak diketahui.
  15. Terapi atenolol yang dimulai pada trimester kedua kehamilan telah dikaitkan dengan bayi dengan berat badan kecil untuk umurnya.
  16. Atenolol telah digunakan secara efektif dibawah pengawasan ketat untuk hipertensi pada trimester ketiga pada sejumlah terbatas ibu hamil dan ditoleransi dengan baik, dan ternyata tidak ada efek yang tidak diinginkan pada fetusnya.
  17. Walau begitu, penggunaan atenolol dalam jangka waktu yang lebih panjang dalam penanganan hipertensi yang yang ringan sampai sedang pada ibu hamil telah dikaitkan dengan retardasi pertumbuhan dalam uterus.
  18. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menggunakan atenolol saat parturisi/melahirkan mungkin berisiko untuk terjadi hipoglikemi dan bradikardi.
  19. Bila atenolol diberikan selama kehamilan atau bila pasien hamil selama menerima obat, pasien harus diberitahu tentang bahaya ke fetusnya.
  20. Pengaruh Terhadap Ibu Menyusui: Atenolol terdistribusi dalam ASI dengan konsentrasi 1,5-6,8 kali dari konsentrasi dalam serum ibu.
  21. Bayi-bayi yang ibunya menggunakan atenolol selama menyusui dapat beresiko terjadi hipoglikemi dan efek samping ß-adrenergik lainnya (misalnya bradikardi).
  22. Oleh karena itu, atenolol harus digunakan dengan hati-hati pada ibu menyusui, bayinya harus dimonitor untuk efek samping obat. Sebagai alternatif, penyekat ß-adrenergik yang terdistribusi lebih sedikit dalam ASI (misalnya propanolol) dapat dipertimbangkan, tetapi harus tetap berhati-hati.
  23. Pengaruh Terhadap Anak-anak: Walaupun keamanan dan efikasi atenolol masih harus ditetapkan pada anak, beberapa ahli merekomendasikan dosis atenolol untuk pediatrik berdasarkan pengalaman klinis terbatas.
  24. Untuk menurunkan tekanan darah pada anak, beberapa ahli menyarankan dosis awal 0,5-1 mg/kg/hari sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi dua.
  25. Dosis dapat dinaikkan bila perlu sampai dosis maksimum 2 mg/kg (sampai dengan 100 mg)/hari

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
Tablet: 50 mg, 100 mg.

Penyimpanan:
  • Tablet atenolol harus dilindungi dari panas, cahaya, dan lembab
  • disimpan pada wadah tertutup rapat dan tahan cahaya pada temperatur 20-25°C.
  • Injeksi atenolol harus disimpan pada temperatur kamar 20-25°C dan dilindungi dari cahaya.

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.

Subscribe to receive free email updates: