Penyebab Dan Cara Mengobati Dermatomikosis

Dermatomikosis merupakan penyakit jamur pada kulit yang secara medis disebut juga dengan mikosis superfisialis (bagian permukaan kulit). Sedangkan dari berbagai jenis dermatomikosis yang sering mengenai manusia, dikenal dengan kelompok dermatofitosis yang di Indonesia dikenal dengan kurap/kadas. Sedangkan panu masuk dalam kategori dermatomikosis yang non-dermatofitosis.


Penyebab Dermatomikosis:

  1. Paparan terhadap jamur sering terjadi. Infeksi jauh lebih jarang.
  2. Faktor genetik memainkan peran dalam tingkat penularan mikosis kuku dan kaki.
  3. Mikosis pada hewan (misal: sapi, marmut, kucing) menyebar dengan mudah pada manusia dan menyebabkan tinea pada ekstremitas, badan dan wajah.


Gambaran klinis Dermatomikosis:

  1. Tinea kutaneus biasanya mempunyai tepi berskuama, eritematus dan meninggi, berbentuk lingkaran (cincin) dan gatal.
  2. Pada panu, muncul bercak bersisik halus yang berwarna putih hingga kecokelatan bisa pada daerah mana saja di badan termasuk leher dan lengan. Biasanya menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala yang berambut.
  3. Infeksi jamur kulit ini biasanya juga menyerang kaum wanita. Ia terjadi dalam kulit dan vagina hingga mengalami pertumbuhan setelah mengalami rangsangan, yang menyebabkan infeksi. Jamur dapat mengiritasi lebih dari satu kali. Dengan ditandai antara lain, adanya penebalan, putih, dadih seperti kotoran, peradangan, serta sakit selama buang air kecil atau sewaktu hubungan seksual.

Diagnosis Dermatomikosis:

  • Gambaran spesifik infeksi jamur pada kulit.
  • Dengan cara pemeriksaan mikroskopis dari bahan kerokan kulit yang terserang

Penatalaksanaan/Pengobatan Dermatomikosis:

  1. Tinea biasanya diterapi dengan obat topikal
  2. Griseofulvin tablet hanya efektif pada dermatofit.
  3. Nistatin hanya efektif pada Candida.
  4. Mikonazol topikal dan ketokonazol sistemik efektif untuk dermatofit dan candida.
  5. Durasi terapi 1 bulan dengan derivat azol.
  6. Dermatofitosis
  • Sistemik (diberikan bila lesi luas): Griseofulvin micronized  500-1000mg sehari selama 2-6 minggu
  • Topikal: Kombinasi asam salisilat 3% dengan asam benzoat 6%

Daftar Pustaka:
- Dipiro et all, 2006: Pharmacotherapy
- ISFI, 2009: Iso farmakoterapi indoneisia
- Depkes, 2007: Pedoman Pengobatan Dasar di PUSKESMAS
loading...

Subscribe to receive free email updates: