Gejala dan Cara Mengobati AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan  oleh  infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) sesuai dengan fase klinik yang dikuatkan oleh kriteria laboraturium tiap masing-masing negara. Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan  sperma, cairam vagina dan air susu ibu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi.
Gejala dan Cara Mengobati AIDS
Penyebab penyakit ini adalah virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), suatu jenis retrovirus yang termasuk golongan virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa informasi genetik.


Gambaran Fase Klinis penyakit aids:

Fase klinis berguna untuk menilai kondisi awal (diagnosa pertama infeksi HIV) atau tahap lanjut untuk memonitor terapi, untuk menetapkan dimulainya terapi ARV (Anti Retroviral) dan intervensi lain pada terapi HIV.

Kategori Fase klinis 1
Meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimtomatik), limfadenopati (gangguan kelenjar/pembuluh limfe) generalisata yang menetap dan infeksi akut  primer dengan penyakit penyerta.

Kategori Fase klinis 2
Penurunan Berat badan (<10%) tanpa sebab, infeksi saluran pernafasan atas (sinusitis, tonsillitis, otitis media, pharyngitis) berulang. herpes zoster, infeksi sudut bibir, dermatitis, infeksi jamur pada kuku.

Kategori Fase Klinis 3
Penurunan Berat badan (<10%) tanpa sebab, diare kronik tanpa sebab sampai lebih dari 1 bulan, demam menetap (intermiten atau tetap < 1 bulan), kandidiasis oral menetap, tuberkulosis pulmonal (paru) plak putih pada mulut, infeksi bakteri berat (Misalnya: pneumonia, empyema[nanah dirongga tubuh terutama di pleura], abses pada otot skelet, infeksi sendi dan tulang), meningitis, bakteremia, gangguan inflamasi berat pada pelvik,

Kategori Fase Klinis 4
Gejala menjadi kurus (HIV wasting syndrome), pneumocystis pneumonia (pneumonia karena pneumonia carinii), pneumonia bakteri berulang, infeksi herpes simplex kronik, TBC estrapulmonal, kaposi sarcoma, cytomegalovirus infection (retinitis atau organ lain), toksoplasma di susunan saraf pusat, HIV encephalopathy, extrapulmonary cryptococcosis termasuk meningitis, disseminated non-tubercolous mycobacteria infection.

Patofisiologi penyakit AIDS

  1. Infeksi HIV/AIDS terjadi lewat tiga (3) cara utama: seksual, parenteral, dan erinteral. hubungan seks baik anal maupun vaginal adalah modus paling umum. pada umumnya resiko meningkat dengan tingkat keparahan partner seks. individu yang berisiko tinggi pada hubungan homoseksual adalah seorang dengan penyakit menular seks ulseratif, banyak partner sex, partnert sex pengguna obat parenteral.
  2. Pengguna jarum atau peralatan suntikan lainya yang terkontaminasi oleh pengguna obat terlarang adalah penyebab utamatransmisi parenteral dan ini jumlahnya seperempat dari kasus AIDS di amerika.
  3. Petugas kesehatan mempunyai resiko yang kecil tertular HIV/AIDS akibat pekerjaanya, sebagian besar penularan karena luka akibat jarum suntik.
  4. Infeksi perinatal atau penularan vertikal, penyebab utama ( 90%) pada infeksi HIV anak, resiko penularan ibu-anak sekitar 25% terjadi pada kasus tidak menyusui atau terapi ARV, pemberian air susu ibu juga bisa menularkan HIV/AIDS


Diagnosis Penyakit Aids:
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksan darah. Pada pemeriksaan darah dapat dilakukan tes langsung terhadap virus HIV atau secara tidak langsung dengan menentukan anti bodi, yang telah dan lebih mudah dilaksanakan. Saat ini banyak jenis tes yang mempunyai sensitifitas dan spesifitas tinggi yang tersedia.

Pengobatan/Penatalaksanaan:
Saat ini ada tiga golongan ARV yang tersedia di Indonesia:
  1. Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NsRTI): obat ini dikenal sebagai analog nukleosida yang menghambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA. Proses ini diperlukan agar virus dapat bereplikasi. Obat dalam golongan ini termasuk zidovudine (ZDV atau AZT), lamivudine (3TC), didanosine (ddI) zalcitabine (ddC), stavudine (d4T) dan abacavir (ABC).
  2. Non-Nucleside Reserve Trancriptase Inhibitor (NNsRTI): obat ini berbeda dengan NRTI  alaupun juga menghambat proses perubahan RNA menjadi DNA. Obat dalam golongan ini termasuk nevirapine (NVP), efavirenz (EFV), dan delavirdine (DLV).
  3. Protease Inhibitor (PI): Obat ini bekerja menghambat enzim protease yang memotong rantai panjang asam animo menjadi protein yang lebih kecil. Obat dalam golongan ini termasuk indinavir (IDV), nelfinavir (NFV), saquinavir (SQV), ritonavir (RTV), amprenavir (APV), dan lopinavir/ritonavir (LPV/r)

Daftar Pustaka:
- Dipiro et all, 2006: Pharmacotherapy
- ISFI , 2009: Iso farmakoterapi indoneisia
- Depkes, 2007: Pedoman Pengobatan Dasar di PUSKESMAS

Subscribe to receive free email updates: